Selasa, 27 November 2012

Sejarah dan Cikal Bakal Wong Osing/Blambangan


Sejarah Suku Using/Osing diawali pada akhir masa kekuasaan Majapahit sekitar tahun 1478 M. Perang saudara dan pertumbuhan kerajaan-kerajaan Islam terutama Kesultanan Malaka mempercepat jatuhnya Majapahit. Setelah kejatuhannya, orang-orang majapahit mengungsi ke beberapa tempat, yaitu lereng Gunung Bromo (Suku Tengger), Blambangan (Suku Using) dan Bali. Kedekatan sejarah ini terlihat dari corak kehidupan Suku Using yang masih menyiratkan budaya Majapahit. Kerajaan Blambangan, yang didirikan oleh masyarakat osing, adalah kerajaan terakhir yang bercorak Hindu. Dalam sejarahnya Kerajaan Mataram Islam tidak pernah menancapkan kekuasaanya atas Kerajaan Blambangan, hal inilah yang menyebabkan kebudayaan masyarakat Using mempunyai perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan dengan Suku Jawa. Suku Using mempunyai kedekatan yang cukup besar dengan masyarakat Bali, hal ini sangat terlihat dari kesenian tradisional Gandrung yang mempunyai kemiripan, dan mempunyai sejarah sendiri-sendiri. Kemiripan lain tercermin dari arsitektur bangunan antar Suku Using dan Suku Bali yang mempunyai banyak persamaan, terutama pada hiasan di bagian atap bangunan. Osing juga merupakan salah satu komunitas etnis yang berada di daerah Banyuwangi dan sekitarnya. Dalam lingkup lebih luas. Dalam peta wilayah kebudayaan Jawa, Osing merupakan bagian wilayah Sabrang Wetan, yang berkembang di daerah ujung timur pulau Jawa. Keberadaan komunitas Osing berkaitan erat dengan sejarah Blambangan (Scholte, 1927). Menurut Leckerkerker (1923:1031), orangorang Osing adalah masyarakat Blambangan yang tersisa. Keturunan kerajaan Hindu Blambangan ini berbeda dari masyarakat lainnya (Jawa, Madura dan Bali), bila dilihat dari adat-istiadat, budaya maupun bahasanya (Stoppelaar, 1927). sebagai kelompok budaya yang keberadaannya tidak ingin dicampuri budaya lain. Penilaian masyarakat luar terhadap orang Osing menunjukkan bahwa orang Osing dengan budayanya belum banyak dikenal dan selalu mengaitkan orang Osing dengan pengetahuan ilmu gaib yang sangat kuat Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebagai usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M. SEJARAH PERANG BAYU ini jarang di ekspos oleh media sehingga sejarah ini seperti tenggelam.

Dalam perkembangan berikutnya, setelah para petinggi Majapahit berhasil hijrah ke Bali dan membangun kerajaan di sana, Blambangan, secara politik dan kultural, menjadi bagian dari Bali atau, seperti yang diistilahkan oleh beberapa sejarawan, “di bawah perlindungan Bali”. Tetapi, pada tahun 1639, kerajaan Mataram di Jawa Tengah juga ingin menaklukkan Blambangan yang meskipun mendapat bantuan yang tidak sedikit dari Bali menelan banyak korban jiwa; rakyat Blambangan tidak sedikit yang terbunuh dan dibuang (G.D.E. Haal, seperti yang dikutip Anderson, 1982; 75). Blambangan tampak relatif kurang memperlihatkan kekuatannya, di masa penjajahan Belanda, ia justru menampilkan kegigihannya melawan dominasi VOC. Perang demi perang terjadi antara rakyat Blambangan melawan kolonial Belanda. Hingga akhirnya memuncak pada perang besar pada tahun 1771-1772 di bawah pimpinan Mas Rempeg atau Pangeran Jagapati yang dikenal dengan perang Puputan Bayu. Perang ini telah berhasil memporak-porandakan rakyat Blambangan dan hanya menyisakan sekitar 8.000 orang (Ali, 1993:20). Meski demikian, tampaknya rakyat Blambangan tetap pantang menyerah. Perang-perang perlawanan, meski lebih kecil, terus terjadi sampai berpuluh tahun kemudian (1810) yang dipimpin oleh pasukan Bayu yang tersisa, yaitu orang-orang yang oleh Belanda dijuluki sebagai ‘orang-orang Bayu yang liar’ (Lekkerker, 1926:401-402; Ali, 1997:9). Setelah dapat menghancurkan benteng Bayu, Belanda memusatkan pemerintahannya di Banyuwangi dan mengangkat Mas Alit sebagai bupati pertama Banyuwangi.

Blambangan memang tidak pernah lepas dari pendudukan dan penjajahan pihak luar, dan pada tahun 1765 tidak kurang dari 60.000 pejuang Blambangan terbunuh atau hilang untuk mempertahankan wilayahnya (Epp, 1849:247). Anderson (1982:75-76) melukiskan bahwa betapa kekejaman Belanda tak bertara sewaktu menguasai Blambangan terutama dalam tahun 1767-1781. Dengan merujuk catatan Bosch yang ditulis dari Bondowoso, Anderson mengatakan: “daerah inilah barangkali satu-satunya di seluruh Jawa yang suatu ketika pernah berpenduduk padat yang telah dibinasakan sama sekali…”.

Pendudukan dan penaklukan yang bertubi-tubi itu ternyata justru membuat rakyat Blambangan semakin patriotik dan mempunyai semangat resistensi yang sangat kuat. Cortesao, seperti yang dikutip oleh Herusantosa (1987:13), dengan merujuk pada Tome Pires, menyebut “rakyat Blambangan sebagai rakyat yang mempunyai sifat “warlike”, suka berperang dan selalu siap tempur, selalu ingin dan berusaha membebaskan wilayahnya dari kekuasaan pihak lain”. Scholte (1927:146) menyatakan:

“Sejarah Blambangan sangat menyedihkan. Suku bangsa Blambangan terus berkurang karena terbunuh oleh kekuatan-kekuatan yang berturut-turut melanda daerah tersebut, seperti kekuatan Mataram, Bali, Bugis dan Makassar, para perampok Cina, dan akhirnya VOC. Tetapi semangat rakyat Blambangan tidak pernah sama sekali padam, dan keturunannya yang ada sekarang merupakan suku bangsa yang gagah fisiknya dan kepribadian serta berkembang dengan pesat, berpegang teguh pada adat-istiadat, tetapi juga mudah menerima peradaban baru”. Rakyat Blambangan, seperti yang disebut-sebut dalam berbagai sumber di atas, itulah yang selama ini dinyatakan sebagai cikal-bakal wong Using atau sisa-sisa wong blambangan.
Bahasa

Suku Osing mempunyai Bahasa Osing yang merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa Kuno seperti halnya Bahasa Bali. Bahasa Osing berbeda dengan Bahasa Jawa sehingga bahasa Osing bukan merupakan dialek dari bahasa Jawa seperti anggapan beberapa kalangan[rujukan?]. kamus boso using
Kepercayaan

Pada awal terbentuknya masyarakat Using kepercayaan utama suku Using adalah Hindu-Budha seperti halnya Majapahit. Namun berkembangnya kerajaan Islam di pantura menyebabkan agama Islam dengan cepat menyebar di kalangan suku Using. Berkembangnya Islam dan masuknya pengaruh luar lain di dalam masyarakat Using juga dipengaruhi oleh usaha VOC dalam menguasai daerah Blambangan. Masyarakat Using mempunyai tradisi puputan, seperti halnya masyarakat Bali. Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebagai usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M.
Demografi

Suku Using menempati beberapa kecamatan di kabupaten Banyuwangi bagian tengah dan bagian utara, terutama di Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan Rogojampi,Kecamatan singonjuruh,Kecamatan Sempu, Kecamatan Glagah dan Kecamatan Singojuruh, Kecamatan Giri, Kecamatan Kalipuro, dan Kecamatan Songgon. Komunitas Using atau lebih dikenal sebagai wong Using oleh beberapa kalangan dan hasil penelitian1 dianggap sebagai penduduk asli2 Banyuwangi, sebuah wilayah di ujung paling timur pulau Jawa yang juga dikenal sebagai Blambangan. Komunitas ini menyebar di desa-desa pertanian subur di bagian tengah dan timur Banyuwangi yang secara administratif merupakan kecamatan-kematan Giri, Kabat, Glagah, Rogojampi, Sempu, Singojuruh, Songgon, Cluring, Banyuwangi Kota, Genteng, dan Srono. Di tiga kecamatan terakhir, mereka telah bercampur dengan penduduk non-Using, migran berasal dari bagian barat Jawa Timur dan Jawa Tengah, termasuk Yogyakarta (wong Using menyebutnya wong Jawa-Kulon).
Profesi

Profesi utama Suku Using adalah petani, dengan sebagian kecil lainya adalah pedagang dan pegawai di bidang formal seperti karyawan, guru dan pegawai pemda.
Stratifikasi Sosial

Suku Using berbeda dengan Suku Bali dalam hal stratifikasi sosial. Suku Using tidak mengenal kasta seperti halnya Suku Bali, hal ini banyak dipengaruhi oleh agama Islam yang dianut oleh sebagian besar penduduknya.
Seni

Kesenian Suku Using sangat unik dan banyak mengandung unsur mistik seperti kerabatnya suku bali dan suku tengger. Kesenian utamanya antara lain Gandrung, Patrol, Seblang, Angklung, Tari Barong, Kuntulan, Kendang Kempul, Janger, Jaranan, Jaran Kincak, Angklung Caruk dan Jedor.
Desa Adat Kemiren

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyadari potensi budaya suku Using yang cukup besar dengan menetapkan desa Kemiren di kecamatan Glagah sebagai desa adat yang harus tetap mempertahankan nilai-nilai budaya suku Using. Desa kemiren merupakan tujuan wisata yang cukup diminati di kalangan masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya. Festival budaya dan acara kesenian tahunan lainnya sering diadakan di desa ini. 

Senin, 25 Juni 2012

Desa-Desa di Bali Bisa Menjadi Pusat Kordinasi

Om Swastyastu,
Kalau kita berhitung tentang potensi Bali untuk membangun sebuah Pusat Kordinasi untuk meningkatkan sumber daya manusia Hindu dan meningkatkan kesejahteraan mereka, akan sangat mudah kita lakukan. Yang penting, semua komponen kordinator yang notabene adalah para relawan Dharma harus mau meluangkan waktu sebagai pekerja sosial untuk penegakan Dharma.
Kita lihat ilustrasi tabel dibawah ini:

Statistik Jumlah Kode Pos di Bali (Sumber: www.posindonesia.co.id)

Kalau kita hitung dari data tersebut berarti ada 57 Kordinator Kecamatan dan 710 Kordinator Desa yang bisa digerakkan untuk mengumpulkan informasi tentang keumatan termasuk statistik dari kondisi riil umat kita di seluruh Bali. 

Dari peta ini kita akan bisa lakukan banyak hal, apalagi kita bisa bersinergi dengan Desa Adat, Prebekel, Kelian Dinas dan juga Kelian Adat.

Hanya sekarang bagaimana kita bisa mengajak lebih banyak generasi muda/umat Hindu yang peduli mau bergabung dan menjadi kordinator di setiap desanya. Sistem yang kita pakai akan sangat sederhana, karena kita memanfaatkan sistem kode pos yang sudah ada. Sehingga mudah untuk mengenal dan mengkordinasikannya.

Mohon masukan dan saran dari semua yang berkeinginan agar Hindu di Bali memiliki akses untuk membantu saudara kita yang lain. (HCC80116).

Keluarga Kurang Mampu di Desa Peninjoan, Bangli, Bali

Om Swastyastu,

Perjalanan menuju wilayah Bangli dari Tim Pencari Informasi Pusat Kordinasi Hindu bekerja sama dengan Cakrawayu Peduli Bali, Sabtu 23 Juni 2012 membukakan cakrawala baru tentang keadaan Bali di wilayah pedesaan. Kita tidak akan pernah menyangka bahwa banyak dari saudara-saudara kita yang ada di wilayah pedesaan dalam keadaan kurang mampu.
Bali, merupakan daerah pariwisata dengan devisa terbesar diraih Bali secara nasional. Membanggakan memang. Tapi kenikmatan "kue" pariwisata hanya dirasakan oleh beberapa kelompok masyarakat saja. Sementara beberapa orang di wilayah-wilayah yang jangkauannya jauh, mereka hanya bisa menelan ludah, manakala saudara mereka di wilayah "subur dollar" melahapnya tanpa pernah melihat mereka.
Kebetulan daerah pertama yang kita dapatkan informasinya adalah Desa Peninjoaan, kurang lebih 10 km dari arah Bangli kota menuju ke daerah timur laut. Kami bertemu dengan Bendesa Adat dan Kelian Dinas wilayah itu untuk mendapatkan gambaran riil secara statistik saudara kita yang kurang mampu. Kami tidak ingin hanya mendapatkan informasi dari wacana saja, karena kami ingin membuktikan apakah benar disana masih ada yang seperti itu.
Sungguh diluar dugaan, ternyata informasi yang kami dengar setelah di cek dengan fakta yang kami temukan di lapangan, memang benar adanya. Masih banyak ada saudara-saudara kita yang tidak mendapat perhatian. Berikut saya tampilkan beberapa foto yang memberikan gambaran tersebut.
Berberkal kentrampilan anyaman bambu, bapak ini mampu bertahan hidup, walau fisiknya cacat.

"Kanggeang tiang sekadi niki, santukan keadaan tiang puniki. Mbok tiang masi pateh sareng tiang nenten perisida ngerereh pengupa jiwa kadi anak tiosan", ungkapnya polos.


Mendengarkan dan memahami kisah seorang pejuang hidup.

Rumah yang sudah tidak layak lagi untuk dijadikan rumah sehat. Tapi keadaan menjadikan keluarga ini tidak mampu berbuat banyak.

Seorang nenek, sebatang kara, hidup dari belas kasihan orang-orang yang masih peduli sama dirinya. Sakitpun tiada yang memberikan biaya pengobatan.

Rumah yang tidak layak huni dengan fasilitas seadanya.

Oleh karena itu Pusat Kordinasi Hindu untuk wilayah Bangli terutama yang ada di Desa Peninjoan akan segera memfasilitasi untuk bisa memberikan akses kepada saudara-saudara kita (dari manapun), agar terketuk hatinya untuk bersama-sama membantu saudara kita.
Gambaran ini, hanyalah sebagaian kecil dari ribuan masyarakat kurang mampu yang selama ini kita tidak pernah tahu keberadaannya. (Tim Pusat Kordinasi Hindu Bali- HCC80116).