Senin, 25 Juni 2012

Desa-Desa di Bali Bisa Menjadi Pusat Kordinasi

Om Swastyastu,
Kalau kita berhitung tentang potensi Bali untuk membangun sebuah Pusat Kordinasi untuk meningkatkan sumber daya manusia Hindu dan meningkatkan kesejahteraan mereka, akan sangat mudah kita lakukan. Yang penting, semua komponen kordinator yang notabene adalah para relawan Dharma harus mau meluangkan waktu sebagai pekerja sosial untuk penegakan Dharma.
Kita lihat ilustrasi tabel dibawah ini:

Statistik Jumlah Kode Pos di Bali (Sumber: www.posindonesia.co.id)

Kalau kita hitung dari data tersebut berarti ada 57 Kordinator Kecamatan dan 710 Kordinator Desa yang bisa digerakkan untuk mengumpulkan informasi tentang keumatan termasuk statistik dari kondisi riil umat kita di seluruh Bali. 

Dari peta ini kita akan bisa lakukan banyak hal, apalagi kita bisa bersinergi dengan Desa Adat, Prebekel, Kelian Dinas dan juga Kelian Adat.

Hanya sekarang bagaimana kita bisa mengajak lebih banyak generasi muda/umat Hindu yang peduli mau bergabung dan menjadi kordinator di setiap desanya. Sistem yang kita pakai akan sangat sederhana, karena kita memanfaatkan sistem kode pos yang sudah ada. Sehingga mudah untuk mengenal dan mengkordinasikannya.

Mohon masukan dan saran dari semua yang berkeinginan agar Hindu di Bali memiliki akses untuk membantu saudara kita yang lain. (HCC80116).

Keluarga Kurang Mampu di Desa Peninjoan, Bangli, Bali

Om Swastyastu,

Perjalanan menuju wilayah Bangli dari Tim Pencari Informasi Pusat Kordinasi Hindu bekerja sama dengan Cakrawayu Peduli Bali, Sabtu 23 Juni 2012 membukakan cakrawala baru tentang keadaan Bali di wilayah pedesaan. Kita tidak akan pernah menyangka bahwa banyak dari saudara-saudara kita yang ada di wilayah pedesaan dalam keadaan kurang mampu.
Bali, merupakan daerah pariwisata dengan devisa terbesar diraih Bali secara nasional. Membanggakan memang. Tapi kenikmatan "kue" pariwisata hanya dirasakan oleh beberapa kelompok masyarakat saja. Sementara beberapa orang di wilayah-wilayah yang jangkauannya jauh, mereka hanya bisa menelan ludah, manakala saudara mereka di wilayah "subur dollar" melahapnya tanpa pernah melihat mereka.
Kebetulan daerah pertama yang kita dapatkan informasinya adalah Desa Peninjoaan, kurang lebih 10 km dari arah Bangli kota menuju ke daerah timur laut. Kami bertemu dengan Bendesa Adat dan Kelian Dinas wilayah itu untuk mendapatkan gambaran riil secara statistik saudara kita yang kurang mampu. Kami tidak ingin hanya mendapatkan informasi dari wacana saja, karena kami ingin membuktikan apakah benar disana masih ada yang seperti itu.
Sungguh diluar dugaan, ternyata informasi yang kami dengar setelah di cek dengan fakta yang kami temukan di lapangan, memang benar adanya. Masih banyak ada saudara-saudara kita yang tidak mendapat perhatian. Berikut saya tampilkan beberapa foto yang memberikan gambaran tersebut.
Berberkal kentrampilan anyaman bambu, bapak ini mampu bertahan hidup, walau fisiknya cacat.

"Kanggeang tiang sekadi niki, santukan keadaan tiang puniki. Mbok tiang masi pateh sareng tiang nenten perisida ngerereh pengupa jiwa kadi anak tiosan", ungkapnya polos.


Mendengarkan dan memahami kisah seorang pejuang hidup.

Rumah yang sudah tidak layak lagi untuk dijadikan rumah sehat. Tapi keadaan menjadikan keluarga ini tidak mampu berbuat banyak.

Seorang nenek, sebatang kara, hidup dari belas kasihan orang-orang yang masih peduli sama dirinya. Sakitpun tiada yang memberikan biaya pengobatan.

Rumah yang tidak layak huni dengan fasilitas seadanya.

Oleh karena itu Pusat Kordinasi Hindu untuk wilayah Bangli terutama yang ada di Desa Peninjoan akan segera memfasilitasi untuk bisa memberikan akses kepada saudara-saudara kita (dari manapun), agar terketuk hatinya untuk bersama-sama membantu saudara kita.
Gambaran ini, hanyalah sebagaian kecil dari ribuan masyarakat kurang mampu yang selama ini kita tidak pernah tahu keberadaannya. (Tim Pusat Kordinasi Hindu Bali- HCC80116).