Selasa, 27 November 2012

Sejarah dan Cikal Bakal Wong Osing/Blambangan


Sejarah Suku Using/Osing diawali pada akhir masa kekuasaan Majapahit sekitar tahun 1478 M. Perang saudara dan pertumbuhan kerajaan-kerajaan Islam terutama Kesultanan Malaka mempercepat jatuhnya Majapahit. Setelah kejatuhannya, orang-orang majapahit mengungsi ke beberapa tempat, yaitu lereng Gunung Bromo (Suku Tengger), Blambangan (Suku Using) dan Bali. Kedekatan sejarah ini terlihat dari corak kehidupan Suku Using yang masih menyiratkan budaya Majapahit. Kerajaan Blambangan, yang didirikan oleh masyarakat osing, adalah kerajaan terakhir yang bercorak Hindu. Dalam sejarahnya Kerajaan Mataram Islam tidak pernah menancapkan kekuasaanya atas Kerajaan Blambangan, hal inilah yang menyebabkan kebudayaan masyarakat Using mempunyai perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan dengan Suku Jawa. Suku Using mempunyai kedekatan yang cukup besar dengan masyarakat Bali, hal ini sangat terlihat dari kesenian tradisional Gandrung yang mempunyai kemiripan, dan mempunyai sejarah sendiri-sendiri. Kemiripan lain tercermin dari arsitektur bangunan antar Suku Using dan Suku Bali yang mempunyai banyak persamaan, terutama pada hiasan di bagian atap bangunan. Osing juga merupakan salah satu komunitas etnis yang berada di daerah Banyuwangi dan sekitarnya. Dalam lingkup lebih luas. Dalam peta wilayah kebudayaan Jawa, Osing merupakan bagian wilayah Sabrang Wetan, yang berkembang di daerah ujung timur pulau Jawa. Keberadaan komunitas Osing berkaitan erat dengan sejarah Blambangan (Scholte, 1927). Menurut Leckerkerker (1923:1031), orangorang Osing adalah masyarakat Blambangan yang tersisa. Keturunan kerajaan Hindu Blambangan ini berbeda dari masyarakat lainnya (Jawa, Madura dan Bali), bila dilihat dari adat-istiadat, budaya maupun bahasanya (Stoppelaar, 1927). sebagai kelompok budaya yang keberadaannya tidak ingin dicampuri budaya lain. Penilaian masyarakat luar terhadap orang Osing menunjukkan bahwa orang Osing dengan budayanya belum banyak dikenal dan selalu mengaitkan orang Osing dengan pengetahuan ilmu gaib yang sangat kuat Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebagai usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M. SEJARAH PERANG BAYU ini jarang di ekspos oleh media sehingga sejarah ini seperti tenggelam.

Dalam perkembangan berikutnya, setelah para petinggi Majapahit berhasil hijrah ke Bali dan membangun kerajaan di sana, Blambangan, secara politik dan kultural, menjadi bagian dari Bali atau, seperti yang diistilahkan oleh beberapa sejarawan, “di bawah perlindungan Bali”. Tetapi, pada tahun 1639, kerajaan Mataram di Jawa Tengah juga ingin menaklukkan Blambangan yang meskipun mendapat bantuan yang tidak sedikit dari Bali menelan banyak korban jiwa; rakyat Blambangan tidak sedikit yang terbunuh dan dibuang (G.D.E. Haal, seperti yang dikutip Anderson, 1982; 75). Blambangan tampak relatif kurang memperlihatkan kekuatannya, di masa penjajahan Belanda, ia justru menampilkan kegigihannya melawan dominasi VOC. Perang demi perang terjadi antara rakyat Blambangan melawan kolonial Belanda. Hingga akhirnya memuncak pada perang besar pada tahun 1771-1772 di bawah pimpinan Mas Rempeg atau Pangeran Jagapati yang dikenal dengan perang Puputan Bayu. Perang ini telah berhasil memporak-porandakan rakyat Blambangan dan hanya menyisakan sekitar 8.000 orang (Ali, 1993:20). Meski demikian, tampaknya rakyat Blambangan tetap pantang menyerah. Perang-perang perlawanan, meski lebih kecil, terus terjadi sampai berpuluh tahun kemudian (1810) yang dipimpin oleh pasukan Bayu yang tersisa, yaitu orang-orang yang oleh Belanda dijuluki sebagai ‘orang-orang Bayu yang liar’ (Lekkerker, 1926:401-402; Ali, 1997:9). Setelah dapat menghancurkan benteng Bayu, Belanda memusatkan pemerintahannya di Banyuwangi dan mengangkat Mas Alit sebagai bupati pertama Banyuwangi.

Blambangan memang tidak pernah lepas dari pendudukan dan penjajahan pihak luar, dan pada tahun 1765 tidak kurang dari 60.000 pejuang Blambangan terbunuh atau hilang untuk mempertahankan wilayahnya (Epp, 1849:247). Anderson (1982:75-76) melukiskan bahwa betapa kekejaman Belanda tak bertara sewaktu menguasai Blambangan terutama dalam tahun 1767-1781. Dengan merujuk catatan Bosch yang ditulis dari Bondowoso, Anderson mengatakan: “daerah inilah barangkali satu-satunya di seluruh Jawa yang suatu ketika pernah berpenduduk padat yang telah dibinasakan sama sekali…”.

Pendudukan dan penaklukan yang bertubi-tubi itu ternyata justru membuat rakyat Blambangan semakin patriotik dan mempunyai semangat resistensi yang sangat kuat. Cortesao, seperti yang dikutip oleh Herusantosa (1987:13), dengan merujuk pada Tome Pires, menyebut “rakyat Blambangan sebagai rakyat yang mempunyai sifat “warlike”, suka berperang dan selalu siap tempur, selalu ingin dan berusaha membebaskan wilayahnya dari kekuasaan pihak lain”. Scholte (1927:146) menyatakan:

“Sejarah Blambangan sangat menyedihkan. Suku bangsa Blambangan terus berkurang karena terbunuh oleh kekuatan-kekuatan yang berturut-turut melanda daerah tersebut, seperti kekuatan Mataram, Bali, Bugis dan Makassar, para perampok Cina, dan akhirnya VOC. Tetapi semangat rakyat Blambangan tidak pernah sama sekali padam, dan keturunannya yang ada sekarang merupakan suku bangsa yang gagah fisiknya dan kepribadian serta berkembang dengan pesat, berpegang teguh pada adat-istiadat, tetapi juga mudah menerima peradaban baru”. Rakyat Blambangan, seperti yang disebut-sebut dalam berbagai sumber di atas, itulah yang selama ini dinyatakan sebagai cikal-bakal wong Using atau sisa-sisa wong blambangan.
Bahasa

Suku Osing mempunyai Bahasa Osing yang merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa Kuno seperti halnya Bahasa Bali. Bahasa Osing berbeda dengan Bahasa Jawa sehingga bahasa Osing bukan merupakan dialek dari bahasa Jawa seperti anggapan beberapa kalangan[rujukan?]. kamus boso using
Kepercayaan

Pada awal terbentuknya masyarakat Using kepercayaan utama suku Using adalah Hindu-Budha seperti halnya Majapahit. Namun berkembangnya kerajaan Islam di pantura menyebabkan agama Islam dengan cepat menyebar di kalangan suku Using. Berkembangnya Islam dan masuknya pengaruh luar lain di dalam masyarakat Using juga dipengaruhi oleh usaha VOC dalam menguasai daerah Blambangan. Masyarakat Using mempunyai tradisi puputan, seperti halnya masyarakat Bali. Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebagai usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M.
Demografi

Suku Using menempati beberapa kecamatan di kabupaten Banyuwangi bagian tengah dan bagian utara, terutama di Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan Rogojampi,Kecamatan singonjuruh,Kecamatan Sempu, Kecamatan Glagah dan Kecamatan Singojuruh, Kecamatan Giri, Kecamatan Kalipuro, dan Kecamatan Songgon. Komunitas Using atau lebih dikenal sebagai wong Using oleh beberapa kalangan dan hasil penelitian1 dianggap sebagai penduduk asli2 Banyuwangi, sebuah wilayah di ujung paling timur pulau Jawa yang juga dikenal sebagai Blambangan. Komunitas ini menyebar di desa-desa pertanian subur di bagian tengah dan timur Banyuwangi yang secara administratif merupakan kecamatan-kematan Giri, Kabat, Glagah, Rogojampi, Sempu, Singojuruh, Songgon, Cluring, Banyuwangi Kota, Genteng, dan Srono. Di tiga kecamatan terakhir, mereka telah bercampur dengan penduduk non-Using, migran berasal dari bagian barat Jawa Timur dan Jawa Tengah, termasuk Yogyakarta (wong Using menyebutnya wong Jawa-Kulon).
Profesi

Profesi utama Suku Using adalah petani, dengan sebagian kecil lainya adalah pedagang dan pegawai di bidang formal seperti karyawan, guru dan pegawai pemda.
Stratifikasi Sosial

Suku Using berbeda dengan Suku Bali dalam hal stratifikasi sosial. Suku Using tidak mengenal kasta seperti halnya Suku Bali, hal ini banyak dipengaruhi oleh agama Islam yang dianut oleh sebagian besar penduduknya.
Seni

Kesenian Suku Using sangat unik dan banyak mengandung unsur mistik seperti kerabatnya suku bali dan suku tengger. Kesenian utamanya antara lain Gandrung, Patrol, Seblang, Angklung, Tari Barong, Kuntulan, Kendang Kempul, Janger, Jaranan, Jaran Kincak, Angklung Caruk dan Jedor.
Desa Adat Kemiren

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyadari potensi budaya suku Using yang cukup besar dengan menetapkan desa Kemiren di kecamatan Glagah sebagai desa adat yang harus tetap mempertahankan nilai-nilai budaya suku Using. Desa kemiren merupakan tujuan wisata yang cukup diminati di kalangan masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya. Festival budaya dan acara kesenian tahunan lainnya sering diadakan di desa ini. 

Senin, 25 Juni 2012

Desa-Desa di Bali Bisa Menjadi Pusat Kordinasi

Om Swastyastu,
Kalau kita berhitung tentang potensi Bali untuk membangun sebuah Pusat Kordinasi untuk meningkatkan sumber daya manusia Hindu dan meningkatkan kesejahteraan mereka, akan sangat mudah kita lakukan. Yang penting, semua komponen kordinator yang notabene adalah para relawan Dharma harus mau meluangkan waktu sebagai pekerja sosial untuk penegakan Dharma.
Kita lihat ilustrasi tabel dibawah ini:

Statistik Jumlah Kode Pos di Bali (Sumber: www.posindonesia.co.id)

Kalau kita hitung dari data tersebut berarti ada 57 Kordinator Kecamatan dan 710 Kordinator Desa yang bisa digerakkan untuk mengumpulkan informasi tentang keumatan termasuk statistik dari kondisi riil umat kita di seluruh Bali. 

Dari peta ini kita akan bisa lakukan banyak hal, apalagi kita bisa bersinergi dengan Desa Adat, Prebekel, Kelian Dinas dan juga Kelian Adat.

Hanya sekarang bagaimana kita bisa mengajak lebih banyak generasi muda/umat Hindu yang peduli mau bergabung dan menjadi kordinator di setiap desanya. Sistem yang kita pakai akan sangat sederhana, karena kita memanfaatkan sistem kode pos yang sudah ada. Sehingga mudah untuk mengenal dan mengkordinasikannya.

Mohon masukan dan saran dari semua yang berkeinginan agar Hindu di Bali memiliki akses untuk membantu saudara kita yang lain. (HCC80116).

Keluarga Kurang Mampu di Desa Peninjoan, Bangli, Bali

Om Swastyastu,

Perjalanan menuju wilayah Bangli dari Tim Pencari Informasi Pusat Kordinasi Hindu bekerja sama dengan Cakrawayu Peduli Bali, Sabtu 23 Juni 2012 membukakan cakrawala baru tentang keadaan Bali di wilayah pedesaan. Kita tidak akan pernah menyangka bahwa banyak dari saudara-saudara kita yang ada di wilayah pedesaan dalam keadaan kurang mampu.
Bali, merupakan daerah pariwisata dengan devisa terbesar diraih Bali secara nasional. Membanggakan memang. Tapi kenikmatan "kue" pariwisata hanya dirasakan oleh beberapa kelompok masyarakat saja. Sementara beberapa orang di wilayah-wilayah yang jangkauannya jauh, mereka hanya bisa menelan ludah, manakala saudara mereka di wilayah "subur dollar" melahapnya tanpa pernah melihat mereka.
Kebetulan daerah pertama yang kita dapatkan informasinya adalah Desa Peninjoaan, kurang lebih 10 km dari arah Bangli kota menuju ke daerah timur laut. Kami bertemu dengan Bendesa Adat dan Kelian Dinas wilayah itu untuk mendapatkan gambaran riil secara statistik saudara kita yang kurang mampu. Kami tidak ingin hanya mendapatkan informasi dari wacana saja, karena kami ingin membuktikan apakah benar disana masih ada yang seperti itu.
Sungguh diluar dugaan, ternyata informasi yang kami dengar setelah di cek dengan fakta yang kami temukan di lapangan, memang benar adanya. Masih banyak ada saudara-saudara kita yang tidak mendapat perhatian. Berikut saya tampilkan beberapa foto yang memberikan gambaran tersebut.
Berberkal kentrampilan anyaman bambu, bapak ini mampu bertahan hidup, walau fisiknya cacat.

"Kanggeang tiang sekadi niki, santukan keadaan tiang puniki. Mbok tiang masi pateh sareng tiang nenten perisida ngerereh pengupa jiwa kadi anak tiosan", ungkapnya polos.


Mendengarkan dan memahami kisah seorang pejuang hidup.

Rumah yang sudah tidak layak lagi untuk dijadikan rumah sehat. Tapi keadaan menjadikan keluarga ini tidak mampu berbuat banyak.

Seorang nenek, sebatang kara, hidup dari belas kasihan orang-orang yang masih peduli sama dirinya. Sakitpun tiada yang memberikan biaya pengobatan.

Rumah yang tidak layak huni dengan fasilitas seadanya.

Oleh karena itu Pusat Kordinasi Hindu untuk wilayah Bangli terutama yang ada di Desa Peninjoan akan segera memfasilitasi untuk bisa memberikan akses kepada saudara-saudara kita (dari manapun), agar terketuk hatinya untuk bersama-sama membantu saudara kita.
Gambaran ini, hanyalah sebagaian kecil dari ribuan masyarakat kurang mampu yang selama ini kita tidak pernah tahu keberadaannya. (Tim Pusat Kordinasi Hindu Bali- HCC80116).

Selasa, 16 September 2008

PKH Jembrana - Kurangnya Relawan Pengajar

Perkembangan "Center" di Bali pada umumnya dan Jembrana pada khususnya sudah mendapat respon yang cukup baik dari masyarakat. Minat umat untuk menambah skill dan kemampuan dalam bidang aplikasi teknologi informasi dan bahasa Inggris sangat besar karena kedua bidang keahlian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam meningkatkan kualitas hidup manusia Hindu kedepan.
Hal ini terbukti dengan membludaknya para pendaftar dari kalangan umat untuk bisa menyertakan anak-anak usia sekolah baik SD maupun SMP menjadi peserta didik sekaligus anggota "Center". Selain menambah pengetahuan dan wawasan tentang teknologi dan komunikasi mereka juga mendapatkan wawasan tentang spiritual Hindu lebih mendalam.
Sayangnya, minat umat untuk belajar dan mendapatkan pencerahan keumatan tidak dibarengi dengan cukupnya relawan pengajar yang mau menyumbangkan ilmu dan keterampilannya pada umat yang membutuhkan.
Namun optimisme itu tidak menyurutkan Yayasan Shanti Dharma Jagadhita untuk mengajak para mahasiswa dan generasi muda Hindu untuk menjadi pengajar di sela-sela waktu libur mereka. Yayasan ini sudah mendirikan beberapa center untuk menampung generasi muda umat Hindu dalam mendapatkan pengetahuan dan keahlian dasar yang banyak dibutuhkan saat ini untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai PKH (Center)
Silahkan hubungi: 08179753936 (Bagus)
08174738043 (Gopi)

Kamis, 17 April 2008

Info Dari Kretek, Bantul, Yogyakarta

Om Swastyastu,
Pura adalah salah satu tempat umat Hindu melaksanakan persembahyangan menyembah kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Disisi lain Pura mempunyai fungsi multidimensi selain untuk menyembah Ida Sang Hyang Widi Wasa, juga merupakan tempat pembentukan dan penggemlengan spiritual, tempat pendidikan agama, tempat pelatihan budaya agama yang adiluhung dan sebagai tempat sosial keagamaan.
Umat Hindu di kecamatan Kretek yang minoritas dengan jumlah umat sekitar 30 orang (10 KK) sangat mendambakan sebuah tempat suci atau Pura. Melihat hal tersebut, sebuah keluarga Hindu yaitu keluarga Bapak Suyono di Tegaltapen Tirtosari Kretek Bantul Yogyakarta mempuniakan atau menghibahkan sepetak sawah dengan Status Sertifikat Hak Milik, No. 01375, Daftar Isian 208 No.14577/ 2004, No. 13.01.09.02.1.01375 dan luas tanah 281 m2. Dengan persetujuan umat Hindu dan warga di Dusun Tegaltapen pada tanggal 18 November 2007 dilaksanakan upacara Ngruwak Karang dan peletakan batu pertama pembangunan Pura Dhaksina Murti, sampai saat ini pembangunan Pura yang akan dilaksanakan secara gotong-royong dengan bantuan warga sekitar serta umat Hindu yang ngayah /kerja bhakti seperti PMHD Banguntapan, PMHD Dero, PMHD Seyegan, Umat Hindu Gantiwarno Klaten, KMHSY, KMHD ISI dan umat Hindu lainnya sudah dapat menyelesaikan pondasi dan pengurukan lahan.
Pembangunan Pura Dhaksina Murti ini sangat membutuhkan dana yang cukup banyak, dengan ini umat Hindu di Kecamatan Kretek sangat mengharapkan doa restu dan perhatian umat Se-Dharma dan para Donatur agar pembangunan Pura ini dapat terlaksana dengan baik dan tidak ada halangan apapun. Panitia pembangunan Pura Dhaksina Murti menerima dana punia melalui rekening bank yaitu:
Rekening Nomor :0236-01-002524-53-4, Simpedes BRI-Cabang Bantul
Atas Nama : KS. GUNTARI/ KEL. DAKSINA PURI
apabila punia hendak disumbangkan berupa bahan material, dapat di sampaikan kepada Panitia: a.n. DWI WINARTO, S.Ag ( HP. 081578624345), dan
Drs. Ida Bagus Agung, MT (HP. 08164749761)----> kebetulan pula beliau Ketua PHDI Jogja (-red)
om Santhi, Santhi, Santhi Om

MOHON DISEBARLUASKAN

pesan ini akan di muat di JAYAPANGUS edisi April
dikirim kembali oleh:
WahyuJAYAPANGUS (08175495575)

Senin, 21 Januari 2008

Selamat Hari Raya Galungan Untuk Umat Hindu Bali

Pada hari Rabu ini, tanggal 23 Januari 2008, umat Hindu Bali akan merayakan Hari Kemenangan Dharma, yang disebut Galungan. Hari raya ini dirayakan setiap 210 hari para kalender umum atau satu periode Kalender Bali. Rangkaian hari dalam perayaan Galungan dimulai seminggu sebelumnya. Disana akan ada Sugihan Bali, Sugihan Jawa, Penyajaan, Pengejukan, Penampahan dan akhirnya hari Galungan itu sendiri. Proses tersebut penuh dengan makna pilosofis setiap umat Hindu di Bali wajib menunjukkan bhaktinya pada Sang Pencipta dan leluhur mereka. Masing-masing tahap dari rangkaian itu secara internal merupakan bentuk dari pembersihan diri (mikrokosmos). Mereka mulai dengan mengingat dan napak tilas perjalanan leluhur mereka dan menghadirkannya, mendoakan dan memberikan bhakti dalam hari kemenangan tersebut agar mereka mendapatkan pembebasan abadi jiwanya. Ini adalah semacam wujud introspeksi diri bagi umat bahwa mereka berada dalam lingkaran Hukum Karma. Kemudian, ada pula Hari Penampahan yang bermakna membunuh dan menyemblih diri sendiri guna membunuh segala bentuk ketidakbaikan dan musuh dalam diri. Kita juga melakukan korban suci untuk menyeimbangkan alam dari segala mala.

Kemudian, barulah kita rayakan Hari Galungan. Saat-saat dimana kita menaklukan Adharma dengan menegakkan Dharma. Ada legenda mengenang peristiwa kemenangan ini. Dimana Dewa Indra, dalam bentuk seorang Sangkul Putih mengalahkan raja raksasa, Maya Denawa. Lain kali, kita akan ceritakan cerita lengkap dalam forum saling isi ini. Kami berharap agar setiap Koordinator pada Pusat Koordinasi Hindu dunia ini bisa saling tukar informasi tentang perayaan hari raya Hindu dimanapun di planet ini.

Di Bali, Galungan dirayakan dengan suka cita dan penuh kemeriahan. Pada setiap rumah kita akan temukan Penjor, yang dibuat dari bambu tinggi yang melengkung dihiasi dengan berbagai ornamen sakral, melambangkan Gunung Agung, gunung tertinggi di Bali. Gunung ini dipercaya sebagai stana Siwa. Penjor dipercaya akan menghubungkan rasa bhakti umat pada Tuhan. Mereka biasanya menyertakan hasil-hasil panen atau hasil bumi pada Penjor itu, sebagai wujud terima kasih atas kemakmuran dan kedamaian yang diberikan Tuhan. Mereka umumnya bersembahyang di pura-pura keluarga. Mereka berkumpul bersama menunjukkan rasa cinta kasih keluarga satu dengan yang lainnya.

Sehari setelah Galungan, umat Hindu akan saling kunjung mengunjungi. Mereka menunjukkan hubungan dekat sebagai sesama ciptaan Tuhan. Bahagia dan gembira serta merupakan hari yang penuh dengan maaf.

Selamat hari raya Galungan bagi umat Hindu Bali yang merayakan dimana saja di seluruh dunia. Semoga Ida Sanghyang Widhi Wasa menganugerahi kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan lahir dan bathin.

Sabtu, 12 Januari 2008

Informasi Terkini Dari Lampung

Wabah Penyakit dan Pembangunan Ashram Hindu

Bratasena adalah sebuah kawasan pertambakan yang terletak dipinggiran laut yang jauh dari keramaian kota, dari Bandar Lampung untuk sampai kesana perlu waktu 3,5 jam itupun harus melalui jalan sungai. Ada 10.000 orang yg bekerja sebagai karyawan outsourching, 3.400 orang sebagai petambak dan lebih dari 5000 orang sebagai swasta dan petani disekitar areal perumahan dan kantor. Jumlah umat Hindu didaerah ini sekitar 800 orang yang bekerja dan 200 orang sebagai petani.
Air disini sangat payau, dan sangat berasa jadi tidak bisa digunakan untuk memasak, minuman berasal dari minuman isi ulang yang terkadang kualitasnya tidak jelas. Tidak pernah ada uji atau penelitian makanan kantin yang terkadang sudah sangat dingin, disamping lingkungan kerja untuk pengolahan udang suhunya terkadang mencapai -10 C.
Karyawan baru yang diterima bekerja disini harus bebas virus hepatitis melalui tes kesehatan karena akan berpengaruh pada produk yang diproses yang 100 % adalah untuk ekspor.
Akhir-akhir ini sebuah penyakit bagai mewabah disini, yang menyerang banyak karyawan. Penyakit ini menyerang pungsi hati yang biasa dinamakan liver atau sakit kuning atau hepatitis. Penyakit ini muncul dengan gejala badan panas dan lemas, kencing berwarna kecoklatan, mata, kuku dan kulit berwarna kuning.
Penyakit inilah yang menyerang sebagian kawan-kawan, anak-anak sekolah, termasuk umat sedharma. Banyaknya umat yang terserang penyakit ini membawa pengaruh pada aktivitas keagaamaan, baik rutinitas maupun acara tertentu. Salah satu kegiatan yang baru dirintis oleh umat Hindu yang ada disini adalah pembangunan dan pengadaan fasilitas pasraman. Kegiatan ini ada adalah perencannan sejak lama dari umat untuk menampung anak-anak sekolah dan muda mudi, yang tidak ada tempat belajar agama Hindu. Jumlah anak-anak sekolah yang beragama Hindu dari sekolah dasar sampai menengah lebih dari 100 orang yang tersebar di pemukiman sekitar. Untuk sekolah minggu anak-anak sekolah masih berjalan dengan tempat yang ada dan fasilitas terbatas.
Sampai saat ini belum ada tindakan khusus dari pemda maupun dari perusahaan untuk menanggulangi penyakit ini.

Kamis, 10 Januari 2008

Pusat Koordinasi Hindu di Australia

Dewan Hindu Australia
Dewan Hindu Australia merupaka organisasi payung yang mewakili kepentingan umat Hindu yang ada di Australia, lepas dari tingkatan atau negara dimana mereka berasal. Berikut ini beberapa sasaran yang ingin dicapai oleh Dewan Hindu Australia:
  • Mengartikulasikan berbagai isu baik di tingkat lokal, wilayah maupun negara di Australia.
  • Melakukan negosiasi dengan pemerintah pada semua tingkatan dan juga dengan organisasi dan asosiasi lain dalam kaitannya dengan agama dan budaya Hindu.
  • Mengorganisir kegiatan, festival, dsb untuk memperkenalkan agama dan budaya Hindu dalam menjalin kerjasama dengan organisasi-organisasi peserta.
  • Bertindak sebagai organisasi non politis, non sektarian dan nirlaba guna meningkatkan kebutuhan-kebutuahn legitimasi sosial, budaya, pendidikan dan agama Hindu di Australia.
  • Mencetak dan menerbitkan buku-buku, leaflet, dsb untuk memperkenalkan Dewan Hindu.
  • Mengadakan seminar, konvensi, konferensi, dsb., guna memperkenalkan pemahaman agama dan budaya Hindu secara benar.
  • Membantu umat Hindu dalam menghadapi perlakuan-perlakuan yang tidak wajar yang berkaitan dengan penerbitan visa bagi para pendeta, pencerah dan penceramah dalam konferensi-konferensi, dsb.
  • Mewakili umat Hindu pada kapasitas kenegaraan seperti pembukaan parlement dan perayaan Hari Australia.
  • Membantu kerjasama media, dalam menulis dan memvisualisasikan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan publikasi dan penyiaran yang bertentangan dengan umat Hindu.
  • Untuk mewakili persatuan Hindu pada isu-isu sosial terkini yang terkait dengan masyarakat multikultural Australia pada berbagai konferensi dan membantu misi lembaga-lembaga pemerintah.
  • Menyelenggarakan konferensi, symphosium, dsb pada tingkat nasional dan luar negeri dan mewakili pertemuan-pertemuan sejenis atas nama asosiasi lokal.
  • Mempublikasikan keberadaan dewan dengan mengiklankan di media, pemerintahan dewan lokal dan federal.

Pusat Koordinasi Hindu di Afrika

Kunjungan Dewan Hindu Afrika

Pada awal Juni 2003, Shri Muljibhai Pindolia, Presiden Dewan Hindu Afrika (HCA), mengunjungi lembaga-lembaga Hindu di bagian barat Afrika seperti Ghana, Togo, Benin dan Nigeria. Beliau menghimbau agar lembaga-lembaga Hindu membentuk badan nasional yang akan bergabung dengan HCA untuk koordinasi yang lebih luar di tingkat kontinen. Beliau memulai kunjungannya di Accra, Ghana, memberikan penghargaan pada Swami Ghananand Saraswati, pimpinan Kuil Hindu Ghana, atas prestasinya atas pengembangan Hindu. Dari 12.500 umat Hindu di Ghana, 10.000 diantaranya, termasuk Swami sendiri adalah orang Afrika asli. Pimpinan lembaga-lembaga Hindu di Ghana sangat bersemangat menyambut rencana Pindolia. Diusulkan agar badan nasinal Accra bisa menjadi pusat koordinasi untuk negara-negara seperti Togo, Benin, Burkina Faso, Nigeria, Mali, Sierra Leone, Pantai Gading, Senegal dan Chad. Muljibhai kemudian melanjutkan perjalanannya ke Togo dan Benin dan mengakhiri perjalanannya di Lagos, bekas ibukota Nigeria, negara yang paling popluer di Afrika dan ada sebanyak 25.000 umat Hindu. Mengumpulkan semua umat Hindu di 53 negara Afrika merupakan tugas yang sangat berat dan di tangan Pindolia, dengan melakukan pendekatan pribadi bagi kepentingan organisasinya merupakan hal yang perlu dihargai.

Senin, 07 Januari 2008

Laporan Umat di Pertambakan, Bratasena, Lampung

Oleh: Ketut Wita (Lampung)

Bratasena adalah sebuah kawasan pertambakan yang terletak dipinggiran laut yang jauh dari keramaian kota, dari bandarlampung untuk sampai kesana perlu waktu 3,5 jam itupun harus melalui jalan sungai. Ada 10.000 orang yg bekerja sebagai karyawan outsourching, 3.400 orang sebagai petambak dan lebih dari 5000 orang sebagai swasta dan petani disekitar areal perumahan dan kantor. Jumlah umat Hindu didaerah ini sekitar 800 orang yang bekerja dan 200 orang sebagai petani .
Air disini sangat payau, dan sangat berasa jadi tidak bisa digunakan untuk memasak, minuman berasal dari minuman isi ulang yang terkadang kualitasnya tidak jelas. Tidak pernah ada uji atau penelitian makanan kantin yang terkadang sudah sangat dingin, disamping lingkungan kerja untuk pengolahan udang suhunya terkadang mencapai -10 C Karyawan baru yang diterima bekerja disini harus bebas virus hepatitis melalui tes kesehatan karena akan berpengaruh pada produk yang diproses yang 100 % adalah untuk ekspor .
Akhir-akhir ini sebuah penyakit bagai mewabah disini, yang menyerang banyak karyawan. Penyakit ini menyerang pungsi hati yang biasa dinamakan liver atau sakit kuning atau hepatitis. Penyakit ini muncul dengan gejala badan panas dan lemas, kencing berwarna kecoklatan, mata, kuku dan kulit berwarna kuning Penyakit inilah yang menyerang sebagian kawan-kawan, anak-anak sekolah, termasuk umat sedharma.
Banyaknya umat yang terserang penyakit ini membawa pengaruh pada aktivitas keagaamaan, baik rutinitas maupun acara tertentu. Salah satu kegiatan yang baru dirintis oleh umat Hindu yang ada disini adalah pembangunan dan pengadaan pasilitas pasraman. Kegiatan ini ada adalah planning sejak lama dari umat untuk menampung anak-anak sekolah dan muda mudi, yang tidak ada tempat belajar agama Hindu, jumlah anak2 sekolah yang beragama Hindu dari sekolah dasar sampai Menengah lebih dari 100 orang yang tersebar di pemukiman sekitar. Untuk sekolah minggu anak-anak sekolah masih berjalan dengan tempat yang ada dan pasilitas terbatas. Sampai saat ini belum ada tindakan khusus dari pemda maupun dari perusahaan untuk menanggulangi penyakit ini. (wita)