Pada hari Rabu ini, tanggal 23 Januari 2008, umat Hindu
Bali akan merayakan Hari Kemenangan Dharma, yang disebut Galungan. Hari raya ini dirayakan setiap 210 hari para kalender umum atau satu periode Kalender Bali. Rangkaian hari dalam perayaan Galungan dimulai seminggu sebelumnya. Disana akan ada Sugihan Bali, Sugihan Jawa, Penyajaan, Pengejukan, Penampahan dan akhirnya hari Galungan itu sendiri. Proses tersebut penuh dengan makna pilosofis setiap umat Hindu di Bali wajib menunjukkan bhaktinya pada Sang Pencipta dan leluhur mereka. Masing-masing tahap dari rangkaian itu secara internal merupakan bentuk dari pembersihan diri (mikrokosmos). Mereka mulai dengan mengingat dan napak tilas perjalanan leluhur mereka dan menghadirkannya, mendoakan dan memberikan bhakti dalam hari kemenangan tersebut agar mereka mendapatkan pembebasan abadi jiwanya. Ini adalah semacam wujud introspeksi diri bagi umat bahwa mereka berada dalam lingkaran Hukum Karma. Kemudian, ada pula Hari Penampahan yang bermakna membunuh dan menyemblih diri sendiri guna membunuh segala bentuk ketidakbaikan dan musuh dalam diri. Kita juga melakukan korban suci untuk menyeimbangkan alam dari segala mala.
Kemudian, barulah kita rayakan Hari Galungan. Saat-saat dimana kita menaklukan Adharma dengan menegakkan Dharma. Ada legenda mengenang peristiwa kemenangan ini. Dimana Dewa Indra, dalam bentuk seorang Sangkul Putih mengalahkan raja raksasa, Maya Denawa. Lain kali, kita akan ceritakan cerita lengkap dalam forum saling isi ini. Kami berharap agar setiap Koordinator pada Pusat Koordinasi Hindu dunia ini bisa saling tukar informasi tentang perayaan hari raya Hindu dimanapun di planet ini.
Di Bali, Galungan dirayakan dengan suka cita dan penuh kemeriahan. Pada setiap rumah kita akan temukan Penjor, yang dibuat dari bambu tinggi yang melengkung dihiasi dengan berbagai ornamen sakral, melambangkan Gunung Agung, gunung tertinggi di Bali. Gunung ini dipercaya sebagai stana Siwa. Penjor dipercaya akan menghubungkan rasa bhakti umat pada Tuhan. Mereka biasanya menyertakan hasil-hasil panen atau hasil bumi pada Penjor itu, sebagai wujud terima kasih atas kemakmuran dan kedamaian yang diberikan Tuhan. Mereka umumnya bersembahyang di pura-pura keluarga. Mereka berkumpul bersama menunjukkan rasa cinta kasih keluarga satu dengan yang lainnya.
Sehari setelah Galungan, umat Hindu akan saling kunjung mengunjungi. Mereka menunjukkan hubungan dekat sebagai sesama ciptaan Tuhan. Bahagia dan gembira serta merupakan hari yang penuh dengan maaf.
Selamat hari raya Galungan bagi umat Hindu Bali yang merayakan dimana saja di seluruh dunia. Semoga Ida Sanghyang Widhi Wasa menganugerahi kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan lahir dan bathin.